INFO BIOTRENT

 

Hama dan Penyakit Tanaman Hortikultura

             Sebagian besar dari masyarakat Indonesia yang menjadi petani melakukannya karena itu adalah pilihan terakhir atau pilihan terpaksa, alasan lain adalah karena dia tinggal di desa, anak petani, putus sekolah atau bahkan  tidak pernah  bersekolah. Akan tetapi, ada juga sebagian kecil  dari masyarakat petani Indonesia yang menjadikan profesi petani sebagai pilihan utamanya dan dengan sadar memilihnya karena memiliki sebidang tanah sawah- ladang, memiliki keterampilan bertani,  memiliki modal untuk mengolah kebunnya dan mampu membaca peluang pasar, bahkan ada juga karena dia memang memiliki hobi bertani.

Menjadi petani atau pekebun yang sukses sedikit-dikitnya harus  mempunyai pengetahuan tentang kondisi tanah, pemilihan bibit, teknik bertani, jenis pupuk, jenis pestisida, mampu membaca keadaan iklim dan cuaca ( musim hujan ataupun musim kemarau), serta mampu melihat  peluang pasar, karena tanpa memahami hal-hal tersebut petani bisa sering mengalami kegagalan bahkan kerugian yang cukup besar.

Masyarakat petani Indonesia yang kami cintai, melalui tulisan ini saya akan membagikan sedikit pengetahuan bertani dan juga pengalaman yang dapat membantu kita untuk menentukan pilihan atau tindakan di lapangan dalam merawat dan memelihara tanaman khususnya mengenai penanggulangan hama dan penyakit tanaman hortikultura.

          Hama
             Sesuatu disebut sebagai hama jika itu merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang melakukan perusakan tanaman serta organisme tersebut dapat dilihat secara kasat mata, misalnya ulat penggerek batang, ulat penggerek daun, ulat penggerek buah, hama lalat buah, hama belalang, hama wereng, hama kutu kebul, hama walang sangit, dan lainnya.  Ada beberapa pilihan untuk menanggulangi serangan hama-hama tersebut seperti misalnya memilih bibit yang tahan hama seperti benih padi yang tahan terhadap serangan hama wereng, bibit cabai yang tahan virus mozaik gemini, bibit kelapa sawit yang tahan serangan jamur ganoderma, dan lainnnya. Cara lain untuk mengendalikan hama selain menggunakan pestisida seperti insektisida adalah dengan cara menciptakan kondisi tanaman yang lebih tahan terhadap serangan hama tertentu melalui pemberian pupuk, misalnya pupuk Silika (SiO2). Penggunaan unsur hara silika ini pada tanaman serealia seperti tanaman padi  diyakini dapat mengurangi serangan penggerek batang. Pemberian pupuk kalium yang cukup juga berpengaruh positif terhadap kesehatan beberapa tanaman pangan dan hortikultura dan lainnya.

Penyakit
          Sesuatu disebut sebagai penyakit apabila itu merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang melakukan  perusakan terhadap  tanaman tetapi organisme tersebut tidak dapat dilihat secara kasat mata. Pada umumnya organisme ini berupa jamur (fungi), bakteri patogen, cacing nematoda, dan virus. Gejala kerusakan yang ditimbulkan pada umumnya berupa pembusukan di bagian akar (busuk akar/mati muda atau mati gadis), busuk pangkal batang (ganoderma pada tanaman kelapa sawit), busuk cabang, busuk daun dan busuk buah (patek pada tanaman cabai), kerusakan lainnya adalah pertumbuhan tanaman yang menyimpang dari seharusnya (abnormal) misalnya kriting daun, bule (daun menguning), tungro atau  bantet dan lain sebagainya.

Dalam kasus lainnya, ada beberapa jenis tanaman yang dapat mengalami kerusakan seperti pembusukan pada busuk ujung buah pepaya, pecah buah tomat, pecah buah mangga di pohon dan bahkan tanaman mati  pucuk. Hal ini bukanlah diakibatkan oleh serangan OPT melainkan disebabkan oleh defisiensi (kekurangan) unsur hara tertentu seperti Boron (B2O5), Calsium (CaO),  dan unsur lainnya.

Dalam hal pengendalian penyakit tanaman, petani dituntut untuk benar-benar mampu mengidentifikasi serangan yang terjadi. Apabila serangan yang terjadi berasal dari jamur, maka pemakaian fungisida yang dibutuhkan untuk mengatasinya, jika serangan yang terjadi berasal dari bakteri, maka pemakaian bakterisida yang diperlukan, sedangkan jika serangan berasal dari nematoda maka yang dibutuhkan adalah mematisida, demikian pula dengan jenis serangan lainnya. Intinya, kita perlu mengetahui jenis serangan yang terjadi untuk menentukan cara mengatasinya agar tepat sasaran.
          
          Melakukan tindakan penanggulangan terhadap serangan hama maupun penyakit yang menyerang tanaman haruslah memahami minimal enam prinsip tepat (6T) yaitu Tepat Dosis, Tepat Konsentrasi, Tepat Target Sasaran, Tepat Waktu, Tepat Caranya, dan Tepat Nilai Ekonomi. Berdasarkan pengalaman dari beberapa petani hortikultura sayuran, tanaman yang mati muda karena serangan jamur fusarium sp. yang membusukkan akar dan pangkal batang sangat sulit dikendalikan bila tanaman sudah sempat terjangkit, misalnya pada tanaman cabai, terong-terongan, dan sayuran lainnya. Hal ini terjadi karena jamur fusarium menyerang tanaman  dari dalam tanah ( jamur tular tanah), dan akan cepat merambat serta menjangkiti tanaman lain sehingga mati muda. Bahkan, berbagai pestisida sulit untuk mengatasinya karena berbeda dengan serangan hama pada umumnya yang dapat dilihat dengan kasat mata sehingga dapat dengan mudah dikendalikan secara tepat menggunakan insektisida kimia maupun insektisida organik (Hayati). Bagi petani pemula ataupun petani yang mengalami masalah serangan jamur fusarium pembusuk akar pada tanaman hortikultura yang menyebabkan tanaman mati muda, berikut kami bagikan pengalaman di lapangan. Dengan cara yang mudah dan praktis,  tanaman dapat terhindar dari serangan jamur hanya dengan penyemprotan pupuk Hayati Bio-Trent dengan konsentrasi 10 cc per liter air dan dosis 2 liter per hektar,  disemprotkan pada lahan saat pengolahan tanah atau saat pemberian pupuk organik kompos. Pupuk hayati Bio-Trent yang diperkaya dengan berbagai bakteri menguntungkan dapat diaplikasikan sebelum maupun setelah tanam. Dengan demkian, maka  lahan dan tanaman akan terbebas dari jamur dan bakteri patogen yang merugikan tadi. Di dalam  Bio-Trent terkandung bakteri menguntungkan Lactobacillus sp. dan Streptomycetes sp. yang dapat membunuh jamur dan bakteri patogen penyebab penyakit pada tanah dan tanaman.                    
             Berikut testimoni pemakai Bio-Trent pada tanaman Mentimun.
               
        Nama saya Pian Sembiring,  tinggal di desa Lau Bakeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Saya adalah ketua kelompok tani.   Saya sudah lama bertani dan menanam timun pada lahan yang sama secara berulang-ulang dan memakai pupuk kandang ayam setelah fermentasi, pupuk kimia, dan pestisida lainnya. Masalah yang selama ini saya alami adalah tanaman saya sering mati muda (mati gadis). Menurut beberapa teman, hal ini adalah akibat  serangan jamur fusarium yang membusukkan akar tanaman.  Setelah memakai pupuk hayati Bio-Trent pada saat pengolahan lahan bersamaan dengan pemberian pupuk kandang seperti biasanya,  dan memakai Bio-Trent untuk yang  kedua kalinya setelah tanaman  berumur 10 hari, tanaman timun saya hidup 99 %, dan panen sangat memuaskan. Masa panen lebih  panjang, total produksi lebih 4,5 ton dari lahan seluas  800 m2 ( hasil seperti ini belum pernah saya capai pada musim-musim tanam sebelumnya). Hasil ini sangat  memuaskan. Perhitungan hasil untuk satu hektar lahan adalah sebagai berikut. Lahan seluas 10.000 m2 dibagi 800 m2 dikali 4,5 ton maka diperoleh hasil total sebanyak 56,25  ton buah timun per hektar. Bio-Trent selain berfungsi untuk mengendalikan busuk akar (jamur fusarium sp.) juga mengandung berbagai bakteri menguntungkan yang dapat   menyuburkan tanah dan tanaman serta meningkatkan produksi timun saya. Bio-Trent menjadi pabrik penghasil pupuk khususnya unsur hara Nitrogen di dalam tanah melalui  penangkapan Nitrogen (N2) bebas dari udara oleh aktivitas bakteri simbiosis Rhizobium sp. maupun bakteri non simbiosis Azotobacter sp. yang terkandung di dalamnya.

Di tulis berdasarkan pengalaman petani
Penulis : Ir.Jona Sidabukke